Jumat, 25 Januari 2013

Pendidikan jasmani di tengah Euforia Olahraga






Kegilaan masyarakat modern  terhadap olahraga  adalah fenomena yang tak berbantahkan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa salah satu dari “kegairahan besar” (the great passion) di abad dua puluh ini adalah dunia olahraga. Umberto Eco dalam bukunya yang bertitel “Tamasya dalam Hiperealitas” berpandangan bahwa olahraga mengalami peristiwa diamplifikasi, tatkala olahraga yang mulanya sebuah permainan yang dimainkan oleh satu orang menjelma semacam diskuisisi dalam permainan. Olahraga adalah globalisasi paling sukses di planet bumi, dengan banyaknya event dan kompetisi yang rutin, menghadirkan adanya fenomena ritus sosial. Seperti yang terjadi di negara-negara di benua Eropa terdapat fenomena setiap akhir pekan yang dikenal dengan “The Special Saturday Ritual” yaitu saat suatu keluarga menghabiskan waktu bersama, berbagi emosi dan kenangan yang unik dengan mendatangi stadion-stadion untuk menonton dan kemudian menjadi suporter dengan mendukung tim sepakbola kesayangannya bertanding.

Olahraga pada awalnya merupakan agenda dan kegiatan individu yang diantaranya bertujuan untuk menjaga dan atau meningkatkan kebugaran, atau sekedar kegiatan rekreatif serta bersenang-senang untuk pelakunya semata. Kemudian berubah seiring dengan adanya perubahan kebijakan yang bentuknya bisa berupa upaya untuk mengadu kualitas dan kecakapan seseorang atau beberapa orang dalam olahraga atau permainan tersebut dalam suatu perlombaan atau . Kehadiran penonton awalnya berperan sebagai saksi munculnya pemenang atau yang terbaik dalam perlombaan dan pertandingan tersebut, kini telah bergeser menjadi fokus utama, dimana dalam teori marketing, pembeli adalah raja. 

Uniknya,  pendidikan jasmani, yang secara karakteristik memiliki kesamaan dengan olahraga, yaitu memanfaatkan aktivitas fisik sebagai media nya,  memiliki posisi yang rumit dalam fenomena kegairahan olahraga di masyarakat. Pendidikan jasmani memiliki ciri bermain dan olahraga, meskipun secara eksklusif bukanlah suatu kombinasi yang setara diantara istilah bermain dan olahraga.

Di kala masyarakat semakin kecanduan terhadap olahraga, -apapun perannya, baik sebagai pelaku, penikmat, atau sekedar pemerhati- disisi lain,  pendidikan jasmani tidak muncul sebagai entitas yang diperhitungkan (Setiawan: 2004). Pendidikan jasmani semakin  termarjinalkan dan tereduksi menjadi sebatas komplemen dalam pembelajaran di sekolah.

Seiring perubahan sosial yang begitu cepat, bangsa Indonesia salah memahami olahraga sebagai sekedar sebuah wahana hiburan, bukan aktivitas jasmani yang menarik untuk dilaksanakan. Bangsa ini malas beraktivitas jasmani, namun begitu getol menikmati pertandingan olahraga –terutama sepakbola-. Begitu serius meng-analisis, memprediksi, dan mengomentari kejadian olahraga, namun lupa untuk mencoba menjadi pemeran utama, yaitu sebagai pemain. Maka  muncullah joke jika negeri ini oleh Unesco diakui sebagai negeri dengan jumlah populasi komentator olahraga terbanyak di dunia. 

Dalam menempatkan posisi pendidikan jasmani, diyakini pula bahwa kontribusi pendidikan jasmani hanya akan bermakna ketika pengalaman-pengalaman gerak dalam pendidikan jasmani berhubungan dengan proses kehidupan seseorang secara utuh di masyarakat. Manakala pengalaman dalam pendidikan jasmani tidak memberikan kontribusi pada pengalaman kependidikan, niscaya terjadi kesalahan dalam internalisasi anak dalam memahami pendidikan jasmani tersebut.

Pendidikan jasmani tak mampu mendidikan anak-anak untuk beraktivitas jasmani secara theoritically right. Pendidikan jasmani bekerja pada tataran utopis, yang mengatakan bahwa aktivitas jasmani itu penting, namun lupa mengajarkan bagaimana seseorang mampu menjadi orang yang penting dalam aktivitas jasmani. Olahraga yang diposisikan sebagai entertainment menempatkan  pendidikan jasmani berada pada pusaran setan dimana anak-anak menganggap aktivitas jasmani adalah sarana hiburan –yang selanjutnya menggiring anak berperan sebagai penonton- dan  mereduksi potensinya untuk mencapai potensi optimal sebagai seorang pelaku olahraga.

Posisi pendidikan jasmani di sekolah tak bisa dilepaskan dari persepsi masyarakat terhadap olahraga. Selama masyarakat masih menganggap olahraga sebagai sarana hiburan, maka pendidikan jasmani hanya akan selalu ditempatkan sebagai pelengkap di sekolah.

Ini hanya sebuah pemikiran sederhana saya yang pada endingnya tidak memberi solusi pada permasalahan ini. Namun fokusnya, jika bangsa ini ingin berubah, maka tempatkanlah olahraga di tanah, bukan diawang-awang. Buatlah anak-anak bermain dan berhasil. Pastikan jika mereka senang dan tertarik karena pernah melakukan, bukan takut dan malas karena terlalu sering melakukan kegagalan.

Juara tidak dibuat di pusat kebugaran.  Juara terbuat dari sesuatu yang telah jauh di dalam mereka - keinginan, mimpi, visi. (Muhammad Ali)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar