Kamis, 25 April 2013

MANFAAT PENENTUAN GOAL SETTING DALAM OLAHRAGA



A.    Pendahuluan
Memikirkan dan mengimpikan hari depan adalah salah satu habit yang dimiliki oleh kaum visioner. Kaum yang cara dan kemampuan memandang kehidupan ini bisa jauh ke depan, melewati batasan waktu dan tempat. Kaum yang berkemampuan mem-breakdown rencana besar ke dalam rencana kecil yang secara konsisten diperjuangkan agar menjadi kenyataan.
Namun yang sering kita jumpai, tidak sedikit orang yang mengambil sikap mengalir begitu saja dalam hidup ini. Merencanakan tujuan hidup (goal setting) pada masa depan merupakan hal yang asing baginya. Mereka beranggapan bahwa nasib telah ditetapkan begitu rupa oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini tentu saja menjadi sangat bertolak belakang dengan pandangan orang semacam Jack Welch. Mantan CEO General Electric ini berpandangan bahwa kitalah yang akan menentukan seperti apa nasib kita kelak. Bukan orang atau pihak lain, walaupun orang atau pihak lain itu bisa saja justru mengendalikan nasib kita. “Control your destiny, or someone else will”,
1
Sesungguhnya, penetapan tujuan/target (goal setting) haruslah dilakukan dalam segala aspek kehidupan.  Dalam bidang olahraga pun amat penting untuk menentukan goal setting ini. Goal setting bermanfaat dalam perkembangan kepribadian para atlet dan dapat menjadi suatu strategi psikologis dalam meniti dan meraih prestasi puncak. Perkembangan dewasa
ini terutama di Amerika dan Eropa, telah berkembang sejumlah strategi secara psikologis sebagai cara untuk membantu para atlet,  baik dalam pencapaian perkembangan pribadi, maupun dalam meraih prestasi puncak. Salah satu di antara strategi tersebut adalah teknik “goal-setting”. Teknik ini juga merupakan suatu teknik pelatihan mental yang pada kenyataannya tidak hanya berpengaruh terhadap penampilan atau kinereja para atlet dalam berbagai tingkat usia dan kemampuan, tetapi juga berkaitan erat dengan perubahan positif yang terjadi dalam aspek psikologis lainnya, seperti tingkat anxiety, kepercayaan diri (self-confidence), motivasi dan sebagainya.


B.  Kajian Pustaka
1. Konsep Tentang “Goal-Setting
Sebelum sampai kepada pengertian tentang “goal-setting”, terlebih dahulu perlu difahami definisi tentang “goal” (tujuan). Locke dan para pengikutnya (1981) telah mencoba membuat definisi tentang istilah “goal” yang diterima secara luas, yaitu “a goal is defined as attaining a specific standard of proficiency on a task, usually within a specified time limit” (suatu “goal” atau tujuan sebagai pencapaian suatu standar kemampuan tertentu dalam suatu tugas, biasanya terkait dalam batas waktu tertentu.
Dalam perspektif praktis, kemudian tujuan-tujuan ini terfokus pada   pencapaian beberapa standar.
Beck dan Hillmar (1976) menjelaskan salah satu jenis intervensi pengembangan organisasi adalah setting. Proses pelaksanaan soal setting ini merupakan pendekatan terhadap pemahaman manajemen berdasarkan sasaran atau hasil yang membantu memberi pengertian tentang aspek pengelolaan atau manajemen, hasil dan sasaran (objektives).
Pengertian goal setting adalah proses penetapan sasaran atau tujuan dalam  bidang pekerjaan, dalam proses goal setting ini melibatkan seluruh aspek yang bekerja secara bersama-sama menentukan atau menetapkan sasaran atau tujuan-tujuan kerja yang akan dilaksanakan tenaga kerjanya sebagai pengemban tugas dalam suatu periode tertentu (Gibson, dkk. 1985).
Latham den Locke (dalam Steers dan Porters, 1983); Locke dkk (1981) menjelaskan bahwa pengertian goal setting adalah suatu gagasan untuk menetapkan. Seseorang melaksanakan suatu pekerjaan dimana tugas yang diberikan sudah ditetapkan targetnya atau sasarannya, misalnya untuk mencapai kuota yang ditargetkan atau menyelesaikan sejumlah tugas dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Dalam hal ini sasaran (goal) adalah objek dari perbuatan dan jika individu menetapkan taktik kemudian berbuat untuk mencapai sasaran atau tujuannya tersebut, berarti sasaran atau tujuan ini menentukan perilaku dalam bekerja. Hersey dan Blanchard (1986) orientasi seseorang menyatakan bahwa perilaku pada umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu, dan perilaku itu pada dasarnya bertujuan pada objek atau sasaran.
Pengertian goal setting yang dikemukakan Davis (1981) adalah manajemen penetapan sasaran atau tujuan untuk keberhasilan mencapai kinerja (performance). Lebih lanjut dijelaskan bahwa penerapan penetapan tujuan yang efektif membutuhkan tiga langkah yaitu: menjelaskan arti dan maksud penetapan target tersebut, kedua menetapkan target yang jelas, dan yang ketiga memberi umpan balik terhadap pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan. Cascio (1987) menyatakan bahwa goal setting itu didasarkan pada pengarahan tingkah laku terhadap suatu tujuan.Sasaran atau target bisa ditambah dengan memberi penjelasan atau informasi kepada atletbagaimana mengerjakan tugas tersebut, serta mengapa sasaran atau tujuan tersebut penting dilaksanakan.
Penerapan goal setting ini terhadap sistem kinerja sangat populer dan luas penggunaannya. Pendekatan manajemen berdasarkan sasaran ini meliputi perencanaan, pengawasan, penilaian pegawai, serta keseluruhan sistem kinerja yang ada dalam organisasi. Prosedur umum dalam manajemen berdasarkan sasaran ini yang paling utama adalah mengidentifikasikan bagian-bagian kunci keberhasilan.
Gibson dkk, (1985) menggambarkan penerapan soal setting dari perspektif manajemen. Langkah-langkahnya adalah (1) diagnosis kesiapan, misalnya apakah atlet, organisasi dan sarana prasarana sesuai dengan program goal setting; (2) mempersiapkan atletberkenaan dengan interaksi antara individu, komunikasi, pelatihan (tranning) dan perencanaan; (3) penekanan pada sasaran yang harus diketahui dan dimengerti oleh atlet dan pelatih; (4) mengevaluasi tindak lanjut untuk penyesuaian sasaran yang ditentukan; (5) tinjauan akhir untuk memeriksa cara pengerjaan dan modifikasi yang ditentukan. Strauss dan Sayless (1981) menjelaskan bahwa prosedur manajemen berdasarkan sasaran memberi kesempatan kepada atletuntuk membuat penilaiannya sendiri mengenai hasil-hasil operasi, artinya jika ia membicarakan hasil maka sebenarnya individu tersebut menilai dirinya sendiri dan mungkin sekali mendapatkan wawasan mendalam bagaimana ia harus memperbaiki sikapnya. cara-caranya atau kelakuannya.
Dari pendapat para ahli di atas dapat serta untuk goal setting adalah disimpulkan bahwa pengertian berdasarkan penetapan sasaran atau target berorientasi hasil. Manajemen yang berorientasi ini dianggap lebih baik karena lebih menekankan pencapaian hasil, kesempatan sehingga memberi manajemen yang sasarannya pada kepada atlet untuk mengerti bagaimana seharusnya bekerja, dan hubungan komunikasi antara atlet dan pelatih lebih terbina karena terjadi interaksi antara yang memberi tugas dengan pelaksana. Secara umum pengertian goal setting itu adalah penetapan sasaran atau target yang akan dicapai seseorang.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Goal Setting
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi goal setting adalah :
a. Penerimaan (acceptance).
b. Komitmen (commitment).
c. Kejelasan (specificity)
d. Umpan balik (feedback).
e. Partisipasi (participation).
f. Tantangan (challenger).
Untuk menjelaskan bagaimana terjadinya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap sistem penetapan sasaran atau target berdasarkan hasil ini (goal setting), di bawah ini akan dijelaskan pengertian satu persatu faktor-faktor tersebut.
a. Pengertian Penerimaan (Acceptance)
Penerimaan terhadap sasaran atau target yang diterima  atlet sebab tujuan ditetapkan terjadi karena adanya kemauan untuk menerima target yang dibebankan, sasaran yang efektif tidak hanya cukup diketahui saja tetapi juga harus dapat diterima atlet untuk dilaksanakan.
Menurut Davis dan Newstrom (1989) bahwa goal setting (penetapan sasaran atau target) merupakan alat motivasi yang efektif bila empat unsur dasar disertakan ke dalam sistem pengelolaan penetapan sasaran tersebut yaitu: (1) penerimaan; (2) spesifikasi; (3) umpan balik; dan (4) tantangan. Pada bagian berikutnya akan dijelaskan unsur-unsur di atas serta pengaruhnya terhadap penetapan sasaran. .
Menurut Yoder (1979) produktivitas kerja akan lebih tinggi dan efisien bila ada perasaan bahwa diperlukan dalam penerimaan dan adanya sasaran yang diemban itu berguna dan pencapaian keberhasilan persetujuan terhadap pelaksanaan pencapaian sasaran atau target organisasi merupakan faktor utama dalam tanggung jawab atlet dalam menjalankan tugas-tugas.
Berkenaan pendapat di atas Likert (dalam Yoder, 1979) juga menjelaskan jenis aktifitas individu dalam organisasi yang mempunyai perasaan yang sama dalam penerimaan loyalitas atau kebersamaan satu sama lain dalam pelaksanaan kerja cenderung mengacu pada prestasi.
Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa penerimaan akan penetapan sasaran atau target berpengaruh terhadap pelaksanaan kerja yang akan dilaksanakan atlet yang bersangkutan.
b. Komitmen
Pengertian komitmen secara umum adalah adanya suatu kesepakatan atau persetujuan antara atlet dengan organisasi. Gibson dkk (1985) mengemukakan pengertian komitmen adalah keadaan yang melibatkan identifikasi dan loyalitas yang diwujudkan terhadap klub/organisasi yang menaaungi atlet.  Mitchell (1985) menjelaskan individu yang kurang sepakat dengan sasaran atau target organisasi merupakan sikap negatif dan bisa berakibat kerugian.
Huber (1985) menjelaskan bahwa antara penerimaan dan komitmen terhadap sasaran sering diartikan sama, tetapi kenyataan dalam gagasannya (construtes) berbeda. Penerimaan terhadap target atau sasaran berarti ada kesektujuan untuk melaksanakan, sedangkan komitmen itu bisa saja individu menerimanya tetapi belum tentu mau mengejar target atau sasaran yang dibebankan. Dengan demikian atlet dapat dikatakan menerima (acceptance) dan komitmen (commitment) terhadap pelaksanaan kerja untuk mencapai target apabila mengetahui dan mengerti akan sasaran yang dimaksudkan, serta ada kesediaan atau persetujuannya.
Griffin (1987) mengemukakan bahwa dapat efektif apabila ada pemahaman dari terhadap tujuan yang akan target catat goal setting tenaga dicapai, atlet   akan mendapat antara komitmen perusahaan dengan atlet yang sukses akan mendapat perioritaas untuk jenjang karir yang lebih tinggi, kemudian target yang ditetapkan harus jelas serta ada tenggang waktu yang efisien untuk pelaksanaan. Terakhir harus ada konsistensi dan ganjaran terhadap pelaksanaan pencapaian target sebagai tujuan utamanya dengan demikian atlet akan mendapat sesuatu yang memuaskan mereka.
Duffy dan Rusbult (dalam Brigham, 1991) menyatakan bahwa individu dalam organisasi akan memberikan komitmen lebih tinggi terhadap pekerjaan bila: (1) atlet puas dengan hasil (outcomes) yang mereka peroleh; (2) kesetiaan yang telah ditanamkan sebagai bagian dari hidupnya organisasi, antara lain: pelibatan diri, pemberian waktu dan energi dan kesetiakawanan (mutual friend) dan (3) tidak adanya pilihan lain yang lebih menguntungkan.
Dari pendapat–pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen atau kesepakatan atau kesetujuan atlet terhadap organisasi untuk melaksanakan pencapaian sasaran atau target dapat berpengaruh terhadap sistem kerja goal setting.
c. Spesifikasi (Specifity)
Pengertian speksifikasi atau keseksamaan sasaran tujuan menurut Gibson dkk, (1985) adalah derajat secara kuantitatif daripada sasaran atau tujuan itu.  Menurut Davis dan Nestrom (1989) penetapan sasaran harus jelas atau spesifik dan dapat diukur agar kerja dapat mengetahui kapan suatu target atau tenaga tujuan diperoleh atau dicapai. Instruksi yang jelas dan terarah memfokuskan kerja pada pelaksanaan pencapaian tenaga target karena patokan sebagai mempunyai keberhasilannya. Sasaran yang jelas menuntun harus dikerjakan atau dicapai, maka atlet tersebut dapat mengukur kemajuannya. Atlet selalu dan berpedoman pada perintah yang samar jelas akan menimbulkan pengertian yang samar dan terarah.
Menurut Beck den Hillmar (1978) jika sasaran itu adalah sebuah pernyataan dari hasil (outputs) yang spesifik atau jelas maka individu atau kelompok akan merencanaakn untuk meraih prestasi melaui usaha–usaha yang lebih kuat.
Terborg (dalam Muchnisky,1987) lebih mengemukakan sasaran yang lebih khusus dan jelas menjadikan usahanya individu lebih memfokuskan lanjut akan untuk mengejar sasaran tersebut serta tingkah lakunya akan lebih terarah.
Blum dan Naylor (1968) juga mengemukakan pendapat bahwa informasi-informasi tentang sifat-sifat pekerjaan dapat dipandang sebagai spesifikasi atau kekhususan dari informasi yang diterima, dan pengetahuan terhadap sifat-sifat tersebut bisa dianggap sebagai perluasan terhadap pengetahuan individu pada kinerjanya. Sehingga dapat memotivasi individu tersebut.
Latham dkk, (dalam Steers dan Porter,1983) mengemukakan bahwa melibatkan atlet dalam penetapan sasaran atau target yang spesifik dan jelas mempunyai dua keuntungan, akan menambah bahwa pekerjaan tersebut harus pengertian pertama diselesaikan, kedua menuntun pekerja pada penetapan tujuan yang tinggi daripada secara sepihak yang menentukan sendiri. Dengan kata lain lebih tinggi kinerjanya.
Secara garis besar beberapa pendapat dan penjelasan ahli-ahli menunjukkan di atas spesifikasi atau kejelasan sasaran mempengaruhi terlaksananya penetapan sasaran atau target, pelaksanaan mendapat sasaran yang tidak jelas akan membuat arah kerja tidak terpusat pada apa yang seharusnya perhatian utama tenaga kerjanya. Berkenaan dengan pendapat ahli di atas, pustaka dilakukan Latham dan Yukl (1975); yang Locke(1980) menunjukkan secara konsisten bahwa sasaran atau tujuan yang jelas dan adanya tingkat tantangan yang menghasilkan kinerja yang lebih tinggi.
d. Umpan Balik (feedback)
Umpan balik kerja adalah informasi berasal dari dalam pengelolaan pekerjaan itu namun bisa juga informasi berasal dari itu lebih sendiri. Bisa juga informasi itu bisa berasal dari orang lain, bagaimana keadaan pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan, apakah tergolong sukses, berhasil atau tidak berhasil. Sejalan dengan definisi diatas Davis dan Newstrom (1989) menyatakan bahwa umpan balik cenderung mendorong prestasi kerja menjadi lebih tinggi dan merupakan alat motivasi yang baik. Seorang atlet pelari harus mengetahui total waktu yang dibutuhkan untuk memenangkan suatu pertandingan. Oleh karena itu umpan balik pekerjaan dibutuhkan untuk memberi informasi dalam menerapkan taktik baru untuk meningkatkan hasil kerja berikutnya.
Berkenaan dengan umpan balik pekerjaan ini dan Klein Campbell, (dalam Campbell dan menjelaskan bahwa balik itu penting umpan menggambarkan kemajuan pada pelaksanaan kerja, diperoleh informasi baru untuk menyiapkan tingkah laku apabila diperlukan. Luthans (1981) menekankan pada atlet yang mempunyai berprestasi tindak supaya menyusun taktik berdasarkan keakuratan informasi umpan balik diperoleh.
Yoder (1979) menjelaskan seharusnya lingkungan untuk kerja dilengkapi dengan umpan balik yang tepat menyesuaikan pelaksanaan tindakan berikutnya, guna untuk memperbaiki mutu kerja yang pada akhirnya menunjukan kemajuan yang berarti, sehingga dapat dibedakan antara kondisi kerja yang berjalan normal dengan kondisi kerja yang memperoleh kemajuan.
Penerimaan umpan balik juga akan memberi pengaruh untuk beraksi pada suatu perbuatan yang bermakna, jadi dapat dikatakan antara kerja dengan hasil yang didapat saling mempengaruhi (Leavitt, 1973). Sejalan dengan pendapat di atas.Stoner (1989) menyatakan bahwa pemberian umpan balik mengenai prestasi kerja yang diperoleh atlet mengakibatkan hasil kerja yang lebih baik pada masa yang akan datang.
Beck dan Hillmar (1976) menjelaskan bahwa sistem umpan balik kerja yang efektif diperoleh apabila individu atau kelompok memperoleh penjelasan cara-cara pelaksanaan dan evaluasi kerja.
Penjelasan hasil penelitian dan pendapat para ahli tersebut memberi pengertian bahwa umpan balik dari pelaksanaan kerja berpengaruh terhadap manajemen penetapan sasaran itu sendiri (goal setting).
e. Partisipasi (participation)
Menurut Beach (1975) partisipasi adalah proses yang melibatkan atlet dalam aktivitas organisasi secara mental dan fisik. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa partisipasi umumnya dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada atlet untuk mengemukakan sumbangan pikiran terhadap pemecahan masalah dan tindak lanjut pelaksanaan kerja. Gibson dkk. (1985) memberi pengertian partisipasi yaitu atlet yang terlibat dalam penentuan sasaran atau tujuan kerja serta pengembangan sasaran tersebut. Sedangkan eksperimen Cumming dan Molly maupun Yukl (dalam Beach,1975) menunjukkan manajemen partisipasi di berbagai bidang pekerjaan menunjukkan pengaruh yang positif terhadap pencapaian sasaran kerja.
Sejalan dengan pendapat di atas Locke dan Latham (dalam Steers dan Porter,1983) meneliti peranan penetapan sasaran ( goal setting) kelompok pertama yaitu partisipasi di dalam sistem pada dua kelompok, adanya keikutsertaan atlet dalam menetapkan sasaran atau target, kelompok kedua penetapan sasaran atau target hanya dilakukan supervisor saja. Hasilnya menunjukkan program keikutsertaan atlet dalam menentukan sasaran kerja, hasilnya lebih positif dan lebih tinggi dibanding dengan penetapan sasaran yang hanya dilakukan supervisor saja. Begitu pula penelitian Mento dkk, (dalam Landy, 1989) menunjukkan adanya pengaruh partisipasi terhadap goal setting, artinya keikutsertaan atlet dalam menentukan jumlah sasaran atau target berpengaruh terhadap kinerja.
Back dan Hilmar (1976) menyatakan proses sistem goal setting menciptakan kondisi positif bila nilai-nilai yang dimiliki organisasi mendukung perkembangan atletserta adanya kesempatan mengemukakan pemikiran-pemikiran untuk organisasi.
Pendapat dan hasil penelitian para ahli di atas memberi gambaran bahwa partisipasi berpengaruh terhadap proses pengelolaan penetapan sasaran (goal setting) dan dengan demikian akan berpengaruh terhadap kinerja.
f. Tantangan (challenge)
Adanya tingkat tantangan dalam mencapai sasaran atau target yang ditetapkan akan membuat atletbekerja lebih keras dan bersungguh-sungguh daripada tidak ada tangangan sama sekali. Pencapaian sasaran atau tujuan yang menantang menciptakan usaha-usaha pemecahan dan akan menimbulkan dorongan berbuat yang lebih baik lagi.
Studi ahli yang menguji hubungan besarnya peranan sasaran yang mempunyai tantangan terhadap kinerja antara lain penelitian yang dilakukan Basset; Patton (dalam Locke, 1980). menemukan bukti yang positif bahwa sasaran atau tujuan yang mempunyai tantangan dalam pekerjaan menghasilkan kinerja yang lebih baik daripada sasaran yang tidak mempunyai tantangan.
Locke dkk. (1981) menjelaskan sasaran atau target itu adalah sesuatu yang akan dicapai individu serta merupakan objek dari aksi atau perbuatan. Dalam tindakan dua aksi yang terjadi proses mental yang melibatkan dua faktor utama yaitu faktor isi (content) dan intensitas (intencity). Dalam faktor isi ada dua sub faktor yaitu spesifikasi dan tingkat kesulitan. Spesifikasi berarti tingkat keseksamaan dalam mencapai sasarn atau tujuan yang dimaksud. Riset lapangan dan laboratorium dari Locke (1980) juga membuktikan bahwa unsur yang spesifik dan tingkat tantangan yang dimiliki target atau sasaran hasilnya menunjukan pencapaian kinerja yang lebih tinggi.
Penelitian Hampton (1981); Dubren (1982) menunjukan hasil yang sama dengan penelitian Locke (1980), bahwa sasaran atau target yang lebih menantang untuk dilaksanakan akan menetukan hasil kerja yang lebih tinggi, dan sasaran atau target yang lebih menantang untuk dilaksanakan akan menunjukan hasil kerja yang lebih tinggi, dan sasaran yang lebih mudah dicapai atau dilakukan tidak menimbulkan usaha yang lebih gigih untukk memenuhi kebutuhan tercapainya kinerja yang lebih baik.
Penelitian Locke dkk (1981); Latham dan Saari (1979) menemukan bahwa individu dengan rancangan sasaran yang lebih sulit akan menampilkan kerja yang lebih baik dibanding dengan individu dengan sasaran yang relatif mudah. Pendapat ini sejalan dengan penjelasan Latham dkk (dalam Steers dan Porter, 1983) bahwa sasaran atau tujuan yang spesifik dan mempunyai tantangan menunjukkan hasil kerja yang lebih efektif.
Dari gambaran di atas dapat diartikan bahwa adanya tingkat tantangan (sasaran tidak terlalu mudah) dalam pelaksanaan pencapaian sasaran atau target akan berpengaruh terhadap efektifitas sistem penetapan sasaran. Sebab dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam pekerjaan secara nyata akan menaikkan kinerja. Secara jelas diketahui bahwa adanya tingkat tantangan yang dimiliki sistem tersebut akan berpengaruh pada prestasi atau hasil penetapan sasaran atau target tersebut.

C.    Pembahasan

Hahoney (dalam Campbell dan Campbell, 1990) menjelaskan bahwa produktivitas sebenarnya berasal dari kerangka kerja pelaksanaan kegiatan organisasi antara lain berasal dari sasaran atau tujuan yang ditargetkan dengan dari perencanaan dan evaluasi, dari hasil monitoring dan asesmennya serta dari umpan balik hasil kerja yang berhasil dicapai. Lebih lanjut Hohoney menjelaskan salah satu elemen untuk menaikkan produktivitas adalah mengutamakan penggunaan taktik pelaksanaan kerja dalam mencapai kinerja.
Berkenaan pendapat ahli tersebut, Sutermeister (dalam Harris, 1984) menjelaskan bahwa produktivitas itu ditentukan oleh pengembangan teknologi prestasi. Prestasi atau kinerja ini adalah hasil gabungan dari motivasi dan kecakapan atlet.
Sejalan dengan pendapat di atas Latham dkk. (dalam Steer dan Porter. 1983) menjelaskan bahwa untuk memotivasi tenaga kerja menaikkan produktivitas, langkah yang harus ditempuh adalah menjelaskan apa yang dimulai atau dilanjutkan oleh tenaga kerja. Oleh harus karena itu produktivitas harus dijabarkan dalam bidang permasalahan tugas yang akan dilaksanakan.
Locke (dalam Shalley, 1991) menjelaskan produktivitas mengacu pada standar kinerja. Artinya produktivitas tercapai bila standar individu tercapai. Prestasi sesuai dengan sasaran atau target yang dibebankan kepada atlet. Latham dan Baldes (dalam Gibson dkk) mengemukakan sistem penetapan sasaran akan memperbaiki kinerja sebab menciptakan arah pada pelaksanaan sehingga menjadi jelas pengertian individu terhadap pekerjaannya.
Locke (dalam Luthans, 1981) menjelaskan bahwa individu berusaha keras mencapai sasaran atau secara wajar emosional untuk memuaskan fatter keinginan-keinginan mereka (desires). Sasaran bahwa target dan itu memberi arah kepada perilaku dan pikiran serta tindakan- tindakan individu yang menuju kepada tujuan akhir yaitu (out comes), Locke juga menetapkan konsep-konsep kebutuhan dan nilai (need and value) sebagai asas konsep motivasi kerja bersamaan dengan pengetahuan serta dasar pikiran-pikiran (premises) individu yang menetapkan sasarannya lebih lanjut ditegaskannya, goal setting adalah pendekatan motivasional yang tepat dalam konteks olahraga, sehingga kegunaanya dapat memberi kontribusi penting dalam pembahasan dan aplikasi perilaku dalam organisasi untuk mencapai basil kerja yang memuaskan.
Sejalan dengan pendapat ahli di atas With dan Locke (dalam Locke dkk, 1981) menjelaskan bahwa sistem penetapan sasaran (goal setting) secara nyata memegang peranan penting terhadap produktivitas.
Dari penjelasan teori-teori dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa sistem manajemen penetapan sasaran berdasarkan hasil (goal setting) mempengaruhi prestasi kerja sebab atlet dapat member respon secara bertanggungjawab. Karena situasi kerja seperti itu dirasa dapat memenuhi kebutuhan mereka akan nilai dan perwujudan diri maka motivasi diri untuk bekerja lebih baik dengan demikian produktivitas akan meningkat. Jika sebelumnya berlatih dipandang sebagai rutinitas saja maka dengan sistem ini atlet menjadi memandang berlatih sebagai suatu konstribusi positif dan akan memberikan kinerja yang optimal sebab sistem ini mempersiapkan atlet untuk menghadapi tantangan yang timbul dari pelaksanaan latihan, sehingga diharapkan prestasi meningkat.

D.                Kesimpulan

Goal setting berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktifitas kerja. Makin jelas goal setting makin tinggi prodiktivitas atlet.
Dari berbagai penelitian yang mengkaitkan sistem penetapan target dengan kinerja (performance) dapat dipakai sebagai acuan untuk menguji hubungan antara setting dengan produktivitas kerja. Penelitian Shalley dkk (1986) menunjukkan bahwa sistem penetapan sasaran atau target menaikkan prestasi kerja.
Hasil penelitian Locke dkk, (dalam Landy, 1989 ) selama 15 tahun meneliti goal setting, mengemukakan beberapa konklusi umum yaitu (1) 90% hasil dari berbagai eksperimen lapangan dan laboratorium menunjukan adanya dukungan bahwa goal setting berhubungan dengan kinerja. (2) target atau tujuan dalam tugas–tugas pekerjaan secara langsung berpengaruh terhadap kinerja oleh karena adanya perhatian, tindakan, mobilisasi energi untuk pelaksanaan tugas, dan motivasi untuk mengembangkan strategi yang sesuai guna pencapaian target atau sasaran.

















DAFTAR PUSTAKA


Anastasi. A. 1989. Psikologi terapan (Penterjemah: Aryatmi Siswonardjono). Jakarta: Penerbit Rajawali.

Erigham, John, C. 1991. Social Psychology. (2nd. Ed.) New York: HarperCollins Publisher Inc.

Feinberg. M. R. Tonofsky, R. and Tarrant, J. J. 1982. The New Psychology For Managing People. Englewood liffs, New Jersey: Prectice-Hall Inc.

Gibson. J. L.Ivancevich, J., and Donnelley, Jr. J. H. 1985. Organization, Behavior, Structure, And Proceces. (5th. Ed.). Texas: Business Publication Inc.


Hersey, P. and Blanchard. K. H. 1986. Manajemen Perilaku Organisasi (edisi keempat). Terjemahan oleh Agus Dharma. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Huber. Vandra. L. 1935. Effects of Tesk Difficulty, Goal Setting, And Strategy on Performance Of Heuristic Task. Journal of Applied Psychology. Vol. 70. No. 3.

Humble. John W. 1967. Management of Objective. London:industrial education and research foundation.

Latham. G. P.. and Seari, L. M. 1979. Importance of Supportive Relationship in Goal Setting. Journal of Applied Psychology. Vol. 64, No. 2.

Locke. E. A., Federic, E.. and Bobko, F. 1984. Effect of Self-efficacy, Goals, and Task Sstrategies on Task Performance. Journal of Applied Psychology. Vol. 69. No. 2.

Locke. E. A.. Saari L. M.. Shaw E. N. and Lathan. G. P. 1981. Goal setting and Task Performance: 1969-1980. Psychological Bulettin. Vol. 90. No. 1.

Sinungan, Muchdarsyah, 1987. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Jakarta: Penerbit PT. Bina Aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar